PLN Kaltim Sering Padam Tanpa Deadline Perbaikan, Warga Bertanya: Harus Sampai Kapan Bersabar?
KALIMANTAN TIMUR, RADARTIPIKOR.COM – Keluhan terhadap pelayanan listrik kembali mencuat di tengah masyarakat Kalimantan Timur. Pemadaman listrik yang disebut kerap terjadi tanpa kejelasan kapan gangguan selesai diperbaiki memunculkan pertanyaan besar dari masyarakat: sampai kapan pelanggan harus bersabar?
Keluhan tersebut disampaikan seorang perempuan melalui sebuah video yang diterima Radar Tipikor. Dalam video itu, ia menyoroti kondisi masyarakat Kalimantan Timur yang dinilainya harus menghadapi berbagai persoalan, sementara kebutuhan listrik menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
“Guys, kayaknya warga Kalimantan Timur itu bisa dapat predikat paling sabar,” ujarnya.
Ia kemudian mempertanyakan pemadaman listrik yang menurutnya sering terjadi.
“Kenapa? Karena PLN (lampunya) itu sering mati,” katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut semakin terasa ketika masyarakat harus menghadapi cuaca panas.
“Ya kan lagi panas panasnya,” ucapnya.
Ia juga menyinggung bahwa masyarakat sebenarnya masih berhadapan dengan berbagai persoalan lainnya. Bahkan, menurutnya, usaha masyarakat juga sangat bergantung pada ketersediaan listrik.
“Nah belum lagi usaha-usaha kami yang tergantung banget dengan listrik,” katanya.
Ia kemudian menyinggung sejumlah fasilitas dan kondisi lain yang menurutnya turut menjadi persoalan di masyarakat.
“Ada Frozen, ada bengkel yang perlu kompresor, kemudian juga ada berbagai, fasilitas…” tuturnya.
Menurutnya, persoalan listrik bukan perkara sederhana karena menyangkut aktivitas dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Ia juga menyinggung kondisi masyarakat yang harus tetap membayar berbagai kewajiban.
“Uangnya? Kita nggak pernah nunggak loh bayarnya,” katanya.
“Kita bayar pajak juga rutin ya,” lanjutnya.
Bahkan, ia menegaskan bahwa kewajiban pembayaran kepada pemerintah maupun pelayanan publik tetap berjalan.
Ia kemudian menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat yang dinilainya sedang tidak mudah.
“Kami ini ibaratnya Kalimantan Timur terkenal dengan kekayaan alamnya. Apa yang terjadi? BBM langka, BBM susah,” katanya.
“Belum lagi gas elpiji. Ya ampun gitu, harganya sudah berapa,” lanjutnya.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut pada akhirnya turut dirasakan masyarakat kecil.
Ia menilai kondisi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi seharusnya tidak semakin dibebani dengan persoalan pelayanan listrik.
“Nggak ada gitu, terbesit ke hati nurani kalian, gimana kami yang terdampak gitu?” katanya.
Ia juga menyinggung kondisi masyarakat yang menggunakan media sosial untuk menyampaikan keluhan.
“Ada baca tuh di salah satu akun sosial media,” katanya.
Dalam bagian lain, ia juga menyinggung kondisi warga yang tetap harus menjalani aktivitas di tengah listrik padam dan cuaca panas.
“Kalian gaji udah tinggi gitu, kalian bisa beli AC,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi semakin berat ketika berbagai persoalan lainnya juga terjadi.
“Belum lagi usaha-usaha yang bergantung kepada listrik gitu, tertahan,” lanjutnya.
Ia pun mempertanyakan apakah kondisi seperti itu dianggap wajar.
“Kebayang nggak sih kalian gimana masyarakat seperti ini?” ujarnya.
“Pati lagi deh, kejadian di pati itu wajar, masyarakatnya sampai nggak kayak gitu ya,” katanya.
Menurut dia, masyarakat merasa kurang diperhatikan ketika gangguan pelayanan terjadi.
Ia kemudian kembali menyinggung kewajiban pembayaran kepada PLN.
“Boleh protes nggak gitu? PLN tuh (kita) nggak nunggak loh,” katanya.
“Kemudian yang bulanan juga, dari sebulan itu petugas sudah… kami bayar tepat,” ujarnya.
Namun, ketika terjadi gangguan, ia mempertanyakan kejelasan penyelesaiannya.
“Uangnya pada ke mana tuh?” katanya.
“Kalau ada kerusakan harusnya ada deadline dong,” ujarnya tegas.
Menurutnya, masyarakat juga berhak mendapatkan kejelasan mengenai kapan kerusakan akan diselesaikan.
“Ini diliput, katanya nggak boleh di wawancara. Hmm, nggak boleh video,” katanya.
“Jadi apa? Feedback-nya buat kita?” ujarnya.
Ia kemudian mempertanyakan mengapa penyelesaian gangguan tidak disampaikan secara jelas kepada masyarakat.
“Yang jelas gitu, kapan selesainya kerusakan? Berbulan-bulan loh,” katanya.
Ia kembali meminta pemerintah dan PLN memberikan perhatian terhadap keluhan masyarakat.
Menurutnya, berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat seharusnya mendapat perhatian serius.
Di penghujung video, ia menyampaikan permintaan agar pemerintah daerah, DPRD dan pihak terkait ikut turun tangan.
“Tolonglah pemerintah, tolong DPRD, tolong-tolong…” katanya.
“Harapan kami, instansi yang terkait mengutamakan kepentingan masyarakat,” ujarnya.
“Please PLN, jangan lama-lama matinya. Kasihan banget kami ini,” tutupnya.
Keluhan tersebut menggambarkan keresahan masyarakat terhadap pemadaman listrik yang dianggap belum disertai kepastian waktu penyelesaian. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sederhana: ketika pelanggan tetap membayar kewajibannya, kapan PLN memberikan kepastian kapan gangguan akan selesai?
Pihak PLN Kaltim diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai keluhan tersebut, termasuk apakah benar terdapat gangguan yang membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan, penyebab terjadinya gangguan, serta langkah dan target penyelesaian yang dapat diketahui masyarakat.
(Rizal)

