KarhutlaKesehatanNasionalTrending

Kasus ISPA Akibat Karhutla Tembus 333 Ribu, Rumah Sakit Swasta Catat Lonjakan Pasien Rawat Jalan

NASIONAL, radartipikor.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat akumulasi sebanyak 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 68 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang periode Juli hingga Oktober 2026. Angka tersebut mencerminkan dampak serius kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, mengungkapkan data tersebut dalam paparan Info Bencana Terkini. Dari total kasus kumulatif, sebanyak 75.172 kasus menimpa anak di bawah usia lima tahun (balita), sementara 258.298 kasus dialami kelompok usia di atas lima tahun. Pada 21 Oktober 2026, jumlah penderita ISPA harian masih tercatat 4.522 orang.

Tujuh provinsi yang menjadi fokus pemantauan adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Peningkatan kasus ISPA mulai terlihat signifikan sejak awal musim kemarau pada Juli 2026, seiring meningkatnya intensitas karhutla.

Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) juga melaporkan adanya lonjakan kunjungan pasien rawat jalan dengan keluhan ISPA di fasilitas kesehatan yang berada di wilayah terdampak. Ketua Umum ARSSI, Iing Ichsan Hanafi, mengakui kenaikan jumlah pasien, meskipun layanan kesehatan masih berjalan normal.

“Untuk tingkat kunjungan memang kita akui, kunjungan rawat jalan cukup banyak terkait dengan kasus-kasus ISPA. Selama ini sih bisa diatasi seperti biasa,” ujar Iing.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Slamet Budiarto, menegaskan bahwa tenaga kesehatan di wilayah terdampak tetap aktif melayani pasien dengan menggunakan masker. Ia mengimbau masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan agar segera memeriksakan diri ke dokter.

Polusi asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja di luar ruangan menjadi prioritas perlindungan.

BACA JUGA  Buruh Apresiasi Polri, Mayday Fiesta di GBK Berjalan Lancar

Meskipun Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut tren kasus harian mulai menurun dibanding puncak di awal September, pemantauan tetap dilakukan secara intensif. Kualitas udara di sejumlah wilayah masih berada pada kategori berbahaya, sehingga masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat beraktivitas.

(Afy/red)