Longsor Ancam Akses Jalan Menuju Pelabuhan Pelindo di Labuan Bajo, Warga Desak Audit dan Penindakan Kontraktor
Labuan Bajo, RadarTipikor.com– Sabtu, 17 Januari 2026 – Intensitas hujan deras yang mengguyur wilayah Labuan Bajo dalam beberapa minggu terakhir telah memicu longsor di sejumlah titik di jalan menuju pelabuhan Pelindo, objek vital yang menjadi pusat aktivitas ekonomi. Jalur ini juga merupakan akses utama bagi warga dari beberapa kampung di Kecamatan Boleng, yang setiap hari menggunakannya untuk menjual hasil tangkapan ikan, sayuran, serta produk pertanian lainnya ke pasar atau pelabuhan.
Kondisi jalan yang semakin tidak aman ini diduga berawal dari proyek pemotongan bukit yang dimaksudkan untuk membuat jalur lebih landai dan memudahkan lalu lintas kendaraan berat, seperti truk bermuatan besar dari pelabuhan. Namun, proyek yang menelan anggaran puluhan miliar rupiah tersebut justru memperburuk situasi. Sebelum pelaksanaan proyek, tidak pernah terjadi longsor di lokasi tersebut. Kini, setelah dikerjakan, tebing-tebing curam yang terbentuk akibat pemotongan bukit sering kali menjatuhkan bebatuan ke badan jalan, mengancam keselamatan pengguna jalan.
Agus, seorang warga Desa Tanjung Boleng yang secara rutin melewati jalur tersebut, mengungkapkan kekhawatirannya. “Saya merasa takut ketika berada di jalur itu. Bebatuan jatuh ke jalan dari tebing yang menjulang tinggi setelah bukit dipotong agar jalan lebih landai dan memudahkan truk bermuatan besar dari pelabuhan mudah melewatinya,” ujar Agus. Ia menambahkan bahwa meskipun pihak kontraktor telah memasang bronjong dengan baut-baut besar yang menancap ke dinding batu tebing sebagai penahan longsor, upaya tersebut ternyata tidak efektif. “Tapi jebol juga,” katanya.
Proyek ini awalnya dikerjakan oleh kontraktor nasional, yang kemudian disubkontrakkan kepada dua rekanan lokal berinisial Baba JM dan Baba WM. Menurut Agus, pelaksanaan pekerjaan tersebut tidak dilakukan secara profesional dan minim pengawasan dari masyarakat. “Area pekerjaan saat itu ditutup total, sehingga tidak ada pengawasan publik,” tuturnya. Akibatnya, kualitas hasil kerja menjadi rendah, dengan penggunaan alat-alat yang diduga tidak memadai dan pendekatan kerja yang asal-asalan.
Lebih lanjut, kondisi jalan semakin memburuk karena adanya gudang penyimpanan kendaraan proyek di sekitar lokasi. Kendaraan-kendaraan berat milik kontraktor sering keluar-masuk, meninggalkan lumpur dari roda mereka yang membuat permukaan jalan licin dan berbahaya, terutama saat musim hujan. “Hasilnya, seperti sekarang ini, area itu menjadi tempat horor karena sesekali batu bisa jatuh menimpa kepala kita yang lewat,” keluh Agus.
Agus membandingkan situasi ini dengan jalur-jalur lain yang selama ini dikenal rawan longsor, seperti di jalan negara Trans Flores di Mabar. Meskipun mengalami intensitas hujan yang sama, longsor tidak terjadi di sana. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa masalah di jalan menuju Pelabuhan Pelindo disebabkan oleh kelalaian dalam pelaksanaan proyek.
Warga setempat, termasuk Agus, mendesak agar dilakukan audit menyeluruh terhadap proyek ini untuk mengungkap potensi penyimpangan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari pihak kontraktor atau otoritas terkait mengenai keluhan ini. Masyarakat berharap langkah cepat diambil untuk memastikan keselamatan dan kelancaran akses ekonomi di wilayah tersebut. (Fijay)

