AmbonMalukuTNI

Kolonel TNI-AL, Mohtar Manji Lapola : Pancasila Bukan Sekadar Simbol, Tapi  Benteng Hidup Tangkal Ancaman Ideologi Asing & Radikalisme

AMBON, Radartipikor.com – Hari Kesaktian dan Kebangkitan Pancasila merupakan momentum bersejarah yang sangat penting bagi segenap elemen bangsa, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, hingga seluruh rakyat Indonesia, untuk bersama-sama merefleksikan kembali posisi vital Pancasila sebagai fondasi utama dan satu-satunya ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menanggapi makna mendalam dari momen suci ini, Kolonel TNI-AL, (KH) Mohtar Manji Lapola, S.Ag., M.H. memberikan pandangan tajam dan penekanan pentingnya menjaga, merawat, serta mengamalkan nilai-nilai luhur
Pancasila di tengah arus tantangan zaman yang kian hari kian kompleks, dinamis, dan penuh ancaman.

Dalam pernyataannya yang penuh wibawa, KolonelMohtar Manji Lapola menegaskan satu hal fundamental : Pancasila tidak boleh lagi hanya dipandang sebatas teks sejarah di buku pelajaran sekolah, atau sekadar simbol negara yang tertulis di lambang Garuda Pancasila semata. Lebih dari itu, Pancasila adalah sebuah Ideologi Hidup (Living Ideology), roh bangsa, dan kompas arah yang wajib menjiwai setiap gerak-gerik, sikap perilaku, hingga seluruh kebijakan strategis yang diambil oleh bangsa dan negara ini.

“Hari Kebangkitan dan Kesaktian Pancasila harus kita maknai sepenuh hati sebagai momentum emas untuk memperkuat kembali komitmen kolektif kita sebagai anak bangsa. Perlu kita sadari bersama, bahwa Pancasila adalah benteng pertahanan terbaik, terkuat, dan tak tertembus bagi bangsa ini dalam menghadapi gempuran deras ideologi asing, paham-paham transnasional, serta ancaman radikalisme yang sangat berpotensi besar menggerogoti dan memecah belah persatuan kita,”ucap
Perwira menengah (Pamen ) Mohtar
Lapola dalam pernyataan tegasnya.

Pancasila: Kristalisasi Nilai Asli Nusantara & Penjaga Moral Bangsa

Sebagai seorang perwira menengah TNI Angkatan Laut yang juga dikenal sebagai akademisi hukum, Letkol Mohtar Manji Lapola memiliki pandangan yang komprehensif. Ia menyoroti bahwa kelima sila dalam Pancasila sesungguhnya merupakan kristalisasi murni dari nilai-nilai luhur, adat istiadat, budaya, serta spiritualitas asli yang tumbuh dan hidup di bumi Nusantara sejak berabad-abad silam.
Oleh karenanya, menjaga, melestarikan, dan mengamalkan nilai-nilai tersebut adalah sebuah “Harga Mati” demi kelangsungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia.

BACA JUGA  TNI-POLRI Lakukan Giat Penanaman Pohon Dengan Tema Lestarikan Negeri Sebagai Bentuk Penghijauan Dini

Dalam pesannya, perwira lulusan TNI AL ini menggarisbawahi tiga poin strategis dan krusial yang menjadi kunci kekuatan Pancasila:

Penyaring Budaya & Ideologi Asing di Era Digital.

Pancasila wajib diposisikan sebagai filter utama atau saringan terkuat di tengah banjir informasi era digital saat ini. Hal ini mutlak diperlukan agar generasi muda kita tidak kehilangan jati diri bangsa, tidak terombang-ambing arus globalisasi, dan tidak mudah terpengaruh budaya asing yang bertentangan dengan norma luhur Indonesia.

Sumber Tunggal Hukum yang Berkeadilan.

Setiap regulasi, hukum, peraturan, dan kebijakan yang berlaku di wilayah
Indonesia harus bersumber, berlandaskan, dan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Hukum di Indonesia haruslah Hukum yang berjiwa Pancasila, adil, dan berpihak pada kepentingan rakyat banyak.

Pilar Utama Persatuan di Atas Keberagaman.Implementasi nyata Sila ke-3

“Persatuan Indonesia” dan Sila ke-4 “Kerakyatan” harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui tingginya rasa toleransi antarumat beragama, semangat gotong royong yang kental, serta budaya musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan setiap perbedaan. Inilah kekuatan raksasa bangsa kita,”ujar laki-laki dengan tiga bunga melati emas di pundak dalam pesan tersebut.

Menutup pernyataannya yang menginspirasi, Kolonel Mohtar Manji Lapola menyampaikan pesan khusus dan ajakan yang sangat menyentuh hati bagi seluruh lapisan masyarakat, namun utamanya ditujukan kepada para pemuda dan pelajar sebagai tumpuan masa depan bangsa.

Ia mengingatkan, tugas generasi masa kini berbeda dengan para pahlawan pendahulu. Jika dahulu para pendiri bangsa berjuang mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan dari penjajah, maka tugas berat generasi sekarang adalah “Menjaga dan Merawat Kemerdekaan” itu sendiri.

“Tugas kita hari ini bukan lagi berjuang memperebutkan kemerdekaan dengan senjata di medan perang, melainkan tugas suci untuk menjaga ‘ruang kemerdekaan’ itu dengan cara merawat dasar negara kita, yaitu Pancasila. Jika Pancasila tumbuh kuat, berakar kokoh, dan hidup di dalam hati sanubari setiap warga negara, maka saya yakin sepenuhnya Indonesia akan tetap berdiri tegak kokoh abadi sebagai bangsa yang berdaulat, berkarakter, adil, makmur, dan disegani dunia,” pungkasnya.

BACA JUGA  Suasana Sakral Dan Penuh Hikmat : Komarudin Besan Resmi Dikukuhkan Sebagai Hinolong Baman di Rumah Adat Kubalahin

(Red)