Kisah Jumali Kapota, Sang Guru Pejuang yang Sulap SDN 1 Teluk Kaiely Jadi Sekolah Harapan
NAMLEA, RADARTIPIKOR.COM – Jika bangunan bisa bercerita, SDN 1 Teluk Kaiely adalah kisah tentang dinding yang retak dan semangat yang hampir padam. Namun hari ini, cerita pilu itu berubah total. Sekolah yang sempat terabaikan di ujung Teluk Kaiely itu kini bangkit, bersolek, dan menjelma menjadi simbol harapan baru bagi pendidikan di Kabupaten Buru.
Sebuah transformasi besar melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan TA 2026 senilai Rp864 juta di bawah program Kemendikdasmen menyasar tepatnya di Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Kaiely, Kecamatan Teluk Kaiely, Kabupaten Buru.
Proyek ini mulai dikerjakan pada pertengahan 2026 dan ditargetkan rampung pada Desember 2026, dengan progres saat ini sudah melampaui 30 persen.
Yang membuatnya istimewa, proyek ini tidak diserahkan kepada kontraktor luar, melainkan dikerjakan secara swakelola, transparan, akuntabel, dan melibatkan langsung tangan-tangan tulus warga sekitar.
Kepala Sekolah SDN 1 Kaiely, Jumali Kapota, S.Pd.I., kepada RadarTipikor.com, Rabu (16/9/2026), memastikan pengelolaan anggaran berjalan di atas rel transparansi.
“Dana tahap pertama sebesar 70 persen telah cair dan tercatat rapi dalam Buku Kas Umum (BKU). Proses pencairan berjalan lancar. Kami menentukan prioritas rehab berdasarkan tingkat kerusakan ruangan yang disesuaikan dengan data Dapodik,” ujar Kapota.
Mengapa ruangan direhab? Karena anak-anak selama ini belajar dalam rasa was-was. Dengan pagu Rp864 juta, sekolah membedah total sembilan ruangan vital dalam 120 hari kalender.
Adapun ruangan yang direhab meliputi enam RKB (Kelas I-VI). Ikut direhab juga satu Ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), satu Ruang Administrasi/Kantor, dan satu Ruang Perpustakaan.
“Sebentar lagi, anak-anak Kaiely akan belajar di ruang kelas yang aman, layak, dan bermartabat,” kata Kapota.
Revitalisasi ini dikelola dengan prinsip keterbukaan penuh. Sekolah membentuk Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan yang melibatkan semua unsur: sekolah, komite, dan masyarakat (P2SP).
Strukturnya disahkan melalui SK Kepala Sekolah Nomor 421.2/001/SK/IV/2026 tanggal 15 April 2026, diperkuat Berita Acara Nomor 421.2/02/BA/IV/2026. Tim Teknis pun ditetapkan melalui SK Nomor 421.2/002/SK/IV/2026.
Bahkan, papan informasi proyek dipasang terbuka di depan sekolah dengan mencantumkan Nomor PKS: 1726.1/C3.3/BP2.01/60100924/VII/PKS/2026, tanggal 28 Juli 2026, dengan nilai konstruksi Rp864 juta TA 2026.
Pendampingan dilakukan setiap hari melalui panggilan jarak jauh dan peninjauan langsung seminggu sekali untuk memastikan semua sesuai juknis.
“Kami membeli material di tempat yang memenuhi standar dan ber-NPWP. Tenaga kerja kami utamakan warga sekitar, jika kurang baru kami tambah dari luar. Ini kerja kolektif untuk anak-anak kita,” tegas Kapota.
Kebangkitan ini tidak lepas dari satu nama: Jumali Kapota.
Lahir di Waplau, 10 September 1970, dan diangkat sebagai PNS pada 1 Januari 2005, ia bukan kepala sekolah biasa. Ia adalah petarung pendidikan.
Rekam jejaknya adalah bukti pengabdian
Pada 2011, ia menjadi Duta Guru Berprestasi mewakili Maluku di Jakarta. Pada 2012, ia menerima Penghargaan Guru Teladan dari Bupati Buru.
Kemudian, antara 2013–2019, ia dipercaya memimpin SDN 3 Waeura. Selanjutnya, pada 2015, ia berinisiatif mendirikan SDN 10 Waplau hingga berhasil berdiri.
Sesudah itu, pada 7 Oktober 2019, ia ditugaskan memimpin SDN 1 Teluk Kaiely yang saat itu kondisinya memprihatinkan. Gedung tak terawat, disiplin guru dan siswa jauh dari harapan.
“Tanpa menunggu, kami siapkan data lengkap. Alhamdulillah, sekolah kami masuk daftar penerima bantuan Revitalisasi gelombang 3 tahap I 2026,” kenangnya.
Perlahan, ia benahi disiplin guru, ia tata kembali semangat belajar siswa, ia jemput harapan yang sempat hilang di pesisir Kaiely.
Bagi Jumali, proyek Rp864 juta ini bukan sekadar soal semen, pasir, dan cat.
“Bukan sekadar memperbaiki bangunan, tapi membangun harapan. Semua ini kami lakukan agar anak-anak bisa belajar dengan tenang, aman, dan bermartabat,” pungkasnya dengan senyum tulus.
Kini, SDN 1 Teluk Kaiely bukan lagi sekolah yang tertinggal. Ia telah menjadi mercusuar kecil di Teluk Kaiely.
Bukti nyata bahwa ketika seorang guru berjuang dengan hati, sebuah sekolah bisa kembali hidup dan masa depan anak-anak bisa kembali menyala.
(Rin)

