Gunung BotakKabupaten BuruMalukuPeristiwa

Satgas Berhasil Buka Blokade di Wamsait Meski Dihadang Ratusan Demonstran dengan Pendekatan Humanis

Namlea, Radartipikor.com — Sekitar dua ratus massa aksi menghalangi upaya penertiban kawasan pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Gunung Botak. Meski mendapat perlawanan berupa pemalangan akses jalan, Satgas gabungan yang dipimpin aparat TNI–Polri berhasil membuka palang dan mengamankan situasi dengan pendekatan humanis, Sabtu pagi, 6 Desember 2025.

Aparat gabungan yang dipimpin Kapolres Buru AKBP Sulastri Sukidjang, didampingi Dandim 1506/Namlea dan Ketua Satgas Dr. Djalaluddin, bersama Kepala Dinas ESDM Provinsi Maluku, menghadapi penghadangan di simpang tiga jalur A, Dusun Wamsait, Desa Dava, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru. Massa menutup akses jalan dengan susunan batu sehingga petugas kesulitan memasuki kawasan pertambangan.

Massa aksi mengaku langkah penutupan Gunung Botak merugikan karena berpotensi meniadakan pekerjaan mereka. Menurut para pengunjuk rasa, selama ini aktivitas penambangan dilakukan secara manual tanpa penggunaan bahan beracun dan berbahaya (B3), dengan metode tradisional, seperti mengeruk dan menunggu buangan di kolam-kolam. Mereka khawatir penutupan penuh akan membuat mereka kehilangan mata pencaharian.

Pantauan Radartipikor.com menyebutkan bahwa awalnya demo berlangsung tertib. Ketegangan meningkat saat Kapolres beberapa kali meminta agar akses jalan dibuka. Permintaan persuasif itu tidak mendapat respon dari massa, yang justru menolak tegas proses penertiban. Dalam arahannya, Kapolres menegaskan konsekuensi apabila jalan tidak dibuka, termasuk risiko kerusakan lingkungan dan bahaya longsor yang menimbulkan pertanggungjawaban hukum dan keselamatan. Menanggapi peringatan tersebut, massa secara serentak menyatakan, “Kami semua yang akan bertanggungjawab.” Namun ketika beberapa orang dipersilakan maju untuk menandatangani surat pernyataan, tidak ada perwakilan yang bersedia turun tangan.

Situasi sempat memanas setelah massa mendorong aparat hingga beberapa personel terjatuh. Beberapa petugas kehilangan ikat pinggang (kopel) karena ditarik massa. Ketegangan meningkat ketika massa mulai melemparkan batu dan botol bekas mineral ke arah aparat. Akibat pelemparan itu, seorang wartawan senior media online mengalami pembengkakan pada pelipis kanan.

BACA JUGA  Raja Kaiely Beri Ultimatum Tunda Penertiban Gunung Botak Demi Keadilan Adat

Kondisi makin tidak terkendali ketika sebagian demonstran membakar ban bekas dan balok kayu yang sudah disiapkan sebelumnya. Menyikapi eskalasi ini, aparat gabungan bergerak menahan beberapa orang yang diduga sebagai provokator dengan pendekatan humanis. Penangkapan beberapa orang tersebut akhirnya membuat keberanian massa kendor; mereka memilih mundur dan meninggalkan lokasi, sehingga pemalangan jalan dengan susunan batu dapat dibuka.

Dalam operasi penertiban, pengosongan, dan penataan kawasan pertambangan tersebut, Tim Satgas menurunkan sebanyak 401 personel untuk mengamankan proses hingga situasi kondusif. Aksi penolakan PETI di Jalur A yang berlangsung hampir empat jam itu akhirnya reda setelah aparat mengamankan beberapa orang yang diduga memprovokasi kerusuhan dan menyusup ke dalam massa aksi.

Hingga berita ini diturunkan, proses penertiban dan pengamanan kawasan masih berlangsung, sementara pihak terkait terus memantau perkembangan untuk mencegah eskalasi susulan.

 

Liput: (TH)