Kalimantan TimurLatest UpdatesSamarindaTrending

Protes Keras Dampak Karhutla: Sempat Ricuh, Gubernur Kaltim Akhirnya Temui Massa TRC PPA dan Penuhi Tuntutan APD

SAMARINDA, radartipikor.com – Gelombang kemarahan relawan kemanusiaan memuncak di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur pada Senin (19/10/2026). Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA Kaltim) yang dipimpin langsung oleh Ketua Rina Zainun menggelar unjuk rasa untuk menuntut keseriusan pemerintah dalam menangani bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta dampaknya terhadap kesehatan anak-anak.
Aksi yang bertajuk “Seruan Aksi Save Children” ini sempat diwarnai kericuhan dan saling dorong antara massa aksi dengan aparat keamanan. Ketegangan meningkat drastis saat para relawan membakar ban bekas sebagai bentuk protes. Petugas Satpol-PP yang sigap mencoba memadamkan api langsung memicu aksi yang dramatis di tengah kepulan asap hitam di depan gerbang utama kantor pemerintahan.

Kritik Tajam atas Klaim “Kaltim Aman”

Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, secara terbuka melayangkan kecaman terhadap sikap jajaran pejabat pemerintah daerah yang dinilai minim empati dan terkesan menutup mata. Pihaknya memprotes keras pernyataan sepihak yang menyebut kondisi Kalimantan Timur saat ini masih “baik-baik saja” atau aman.
“Ini yang dikatakan Gubernur aman-aman saja, ini yang kita protes. Kami gerah! Petugas dan relawan di lapangan kehausan, kelaparan, bahkan bertaruh nyawa memadamkan api hingga subuh tanpa Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai. Apakah harus menunggu adanya kematian massal baru pemerintah menganggap ini darurat?” cecar Rina dengan nada tinggi di hadapan awak media.
Kemarahan relawan kian tersulut oleh statement kontroversial dari pihak Dinas Kesehatan yang dinilai mendahului proses penyelidikan lapangan. Pejabat terkait sempat mengeluarkan pernyataan bahwa kasus kematian seorang bayi berinisial YS di Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, murni disebabkan oleh penyakit bawaan dan bukan karena paparan asap Karhutla.
Padahal, berdasarkan pendampingan langsung TRC PPA Kaltim terhadap orang tua korban, bayi tersebut tidak pernah memiliki riwayat gangguan pernapasan akut sebelum kabut asap pekat mengepung pemukiman mereka. Relawan mengecam keras para wakil rakyat dan pejabat yang hanya duduk di belakang meja tanpa melihat langsung realita tragis dan penderitaan masyarakat di lokasi terdampak.

BACA JUGA  PT.HAM Diduga Pelaku Aktifitas Alat Berat Diareal IPR, Krimsus Diminta Tangkap Aktor Intelektualnya

Gubernur Rudy Mas’ud Luluh dan Penuhi Tuntutan

Setelah massa aksi menegaskan tidak akan membubarkan diri hingga ditemui langsung, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud akhirnya luluh dan bersedia menerima perwakilan TRC PPA Kaltim di ruang rapat utama.
Dalam audiensi tersebut, Gubernur secara langsung menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya balita di Palaran dan menegaskan bahwa persoalan ini menjadi evaluasi serius bagi Pemprov Kaltim.
Merespons tuntutan tegas para relawan, Gubernur Rudy Mas’ud berkomitmen penuh untuk mengambil langkah cepat, di antaranya:
1. Penyaluran Bantuan Langsung dan APD: Pemerintah segera melengkapi sarana, prasarana, perlengkapan keselamatan medis, serta Alat Pelindung Diri (APD) modern bagi petugas pemadam kebakaran dan seluruh relawan di lapangan.
2. Penyediaan Rumah Oksigen: Membahas instruksi darurat pemenuhan fasilitas “Rumah Oksigen” yang dikhususkan bagi kelompok rentan terdampak asap, seperti balita, anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
3. Instruksi Dinkes: Memerintahkan Dinas Kesehatan dan rumah sakit daerah untuk menjamin ketersediaan masker, obat-obatan, serta pelayanan medis tanpa hambatan bagi korban terdampak kabut asap.
Meskipun status Karhutla belum secara resmi dinaikkan menjadi bencana nasional oleh pusat, komitmen tertulis dan respons langsung dari Gubernur ini diharapkan menjadi titik balik penanganan Karhutla di Kaltim yang lebih manusiawi dan memprioritaskan keselamatan jiwa rakyat di atas segalanya.

(Radar TIPIKOR/Edna Luna)