Tambang Emas Gunung Nona, Satu Penambang Tewas Tertimbun Longsor
Namlea, Radartipikor.com – Kabar duka mendalam mengguncang kawasan pertambangan di Kabupaten Buru, Maluku. Seorang penambang asal Desa Waelo tewas tertimbun tanah longsor di lokasi tambang emas Gunung Nona, Desa Wapsalit, Kecamatan Lolongguba, Sabtu (15/8/2026). Peristiwa nahas ini terjadi saat korban sedang berjuang mencari nafkah di kawasan yang dikenal dengan Air panas dan rawan longsor.
Bencana tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 10.45 WIT. Lokasi kejadian berada di kawasan yang disebut dengan nama longsoran Air Panas, wilayah tambang emas Gunung Nona. Korban yang diketahui berinisial A, warga asal Desa Waelo Kecamatan Waelata, sedang fokus menggali tanah untuk mencari emas ketika tiba-tiba gundukan tanah di atas lokasi kerjanya ambruk.
Insiden ini dinilai terjadi akibat ada hantaman tanah yang kuat dan tumpukan material yang tebal membuat korban tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri. Ia tertimbun sepenuhnya dan dilaporkan meninggal dunia seketika di tempat kejadian perkara.
Keprihatinan menyelimuti lokasi kejadian. Video yang diterima media ini menunjukkan suasana duka di tengah lokasi tambang. Jenazah korban telah dibungkus menggunakan karung besar berwarna putih dengan corak khas, lalu diletakkan di atas kalekus untuk persiapan evakuasi.
Terlihat dua rekan penambang sedang berupaya mengikat tali pada bagian pinggang jenazah dengan hati-hati sebagai persiapan evakuasi. Tak hanya itu, puluhan penambang lain yang bekerja di sekitar lokasi turut memberikan bantuan sekuat tenaga untuk mempercepat proses pemindahan jenazah. Kehadiran mereka menjadi bukti kepedulian sesama pekerja di tengah situasi yang penuh ketakutan dan kesedihan.
Hingga berita ini diturunkan, Pihak kepolisian, pemerintah desa setempat, maupun keluarga korban belum memberikan keterangan resmi yang mendetail terkait kronologi lengkap maupun identitas jelas korban.
Penyebab pasti longsor pun masih menjadi tanda tanya besar. Diduga, curah hujan yang tinggi atau struktur tanah yang tidak stabil di kawasan tersebut menjadi pemicu ambruknya tebing yang menimpa korban.
Tragedi ini kembali menyoroti kenyataan pahit yang dihadapi para penambang rakyat di wilayah Buru. Mereka kerap harus bekerja di lokasi yang berisiko tinggi tanpa perlindungan keselamatan yang memadai maupun jaminan keamanan kerja yang layak.
Masyarakat berharap pihak berwenang segera turun tangan untuk menelusuri penyebab kejadian, memastikan penanganan jenazah korban berjalan lancar dengan layak, serta segera mengambil langkah guna mencegah peristiwa serupa menimpa para pekerja tambang lainnya di masa mendatang.
(Red)

