𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗛𝗔𝗞𝗜𝗠𝗜, 𝗠𝗔𝗥𝗜 𝗞𝗜𝗧𝗔 𝗠𝗘𝗟𝗜𝗛𝗔𝗧 𝗟𝗘𝗕𝗜𝗛 𝗝𝗔𝗨𝗛
RADARTIPIKOR.COM | Video bisa menangkap suara yang meninggi, wajah yang tegang, atau kata-kata yang terdengar keras. Tetapi kamera tidak selalu merekam apa yang terjadi sebelum ia dinyalakan, apa yang menjadi latar belakang persoalan, dan apa yang telah dikerjakan seseorang jauh sebelum dirinya menjadi tontonan publik.
Karena itu, ketika video adu mulut antara Koordinator BNPB Pak Deden, dan Pak Camat Laut Agustinus Supratman di Dampek, Manggarai Timur, menjadi perhatian publik, barangkali kita perlu berhenti sejenak sebelum menjatuhkan vonis.
Wakil Bupati Manggarai Timur pun telah menyampaikan klarifikasinya. Isinya kurang lebih menyayangkan kemarahan pak camat atas kejadian tersebut. Sayapun berusaha mencari tahu beberapa sumber. Termasuk Pak Deden sebagai koordinator BNPB Pusat yang ditugaskan di Dampek Manggarai Timur.
𝑀𝑒𝑛𝑢𝑟𝑢𝑡𝑛𝑦𝑎, 𝑖𝑎 𝑡𝑖𝑏𝑎-𝑡𝑖𝑏𝑎 𝑑𝑖 𝑚𝑎𝑟𝑎ℎ𝑖. 𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑟𝑛𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑟𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑘𝑎𝑛𝐚𝐧 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎. 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐤𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐮𝐫𝐮𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐧𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧𝐢 𝐝𝐨𝐤𝐮𝐦𝐞𝐧 𝐥𝐨𝐠𝐢𝐬𝐭𝐢𝐤. 𝑈𝑟𝑢𝑠𝑎𝑛 𝑑𝑖 𝑘𝑒𝑐𝑎𝑚𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑢𝑟𝑢𝑠𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑚𝑒𝑟𝑖𝑛𝑡𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡. 𝐼𝑎 𝑗𝑢𝑔𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑒𝑙𝑎𝑠𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎ℎ𝑤𝑎 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑚𝑎𝑠𝑎 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑝 𝑏𝑒𝑛𝑐𝑎𝑛𝑎, 𝑓𝑜𝑘𝑢𝑠𝑛𝑦𝑎 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑠𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑛𝑡𝑢𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑚𝑎𝑠𝑦𝑎𝑟𝑎𝑘𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑑𝑎𝑚𝑝𝑎𝑘.
Bagi saya, klarifikasi tersebut bukanlah bagian dari fakta, bukan juga keseluruhan fakta.Tuduhan pun demikian. Keduanya tetap harus diuji melalui kronologi, dokumen, saksi, dan keterangan semua pihak.
Karena itu, kita tidak boleh tergesa-gesa melakukan penghakiiman dan pembelaan yang buta kepada keduanya. Yang kita butuhkan adalah keberanian mencari kebenaran tanpa kehilangan kemanusiaan.
Jika ada tekanan, buktikan. Jika tidak ada pemaksaan, buktikan pula. Jika ada persoalan administrasi, periksa dokumennya. Jika ada kesalahpahaman, selesaikan. Jika ada kekeliruan, koreksi berdasarkan fakta—bukan kebencian. Sebab di tengah bencana, ego adalah barang yang terlalu mahal untuk dibawa ke tengah reruntuhan.
Gempa tidak mengenal jabatan. Rumah yang roboh tidak bertanya siapa yang benar. Korban hanya menunggu satu hal: pertolongan. Maka pertanyaan terpenting bukan semata-mata, siapa yang salah dalam video itu? Tetapi: setelah video itu viral, apakah bantuan menjadi lebih cepat, atau energi kita justru habis untuk membuktikan siapa yang paling benar?
Inilah jebakan zaman digital. Potongan video dapat menjadi pengadilan sosial dalam hitungan jam. Orang merasa telah mengetahui seluruh cerita hanya dari beberapa menit rekaman. Padahal kebenaran sering berada di luar frame: dalam kronologi, dokumen, percakapan, keputusan di lapangan, dan kesaksian mereka yang tidak pernah masuk kamera.
Kita boleh mengkritik. Kita boleh berbeda pendapat. Tetapi jangan sampai pertengkaran para pelayan publik membuat rakyat yang sedang menderita menjadi penonton dari pertengkaran para pelayannya sendiri. 𝐴𝑑𝑎 𝑝𝑟𝑖𝑛𝑠𝑖𝑝 𝑠𝑒𝑑𝑒𝑟ℎ𝑎𝑛𝑎 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎𝑎𝑛: 𝑘𝑒𝑡𝑖𝑘𝑎 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑎𝑘𝑎𝑟, 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘 𝑎𝑝𝑖. 𝑌𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑑𝑎𝑚𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑝𝑖. Begitu pula dengan bencana.
Selamatkan manusia terlebih dahulu. Periksa persoalan kemudian.
Biarlah kronologi dibuka. Data diperiksa. Dokumen ditelusuri. Semua pihak didengar. Publik pun menilai dengan kepala dingin.
Sebab ketika kamera akhirnya dimatikan dan riuh media sosial berhenti, Dampek tetap membutuhkan rumah yang dibangun kembali, keluarga yang dipulihkan, anak-anak yang kembali bersekolah, dan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian.
Mungkin publik tidak akan mengingat siapa yang paling keras berteriak di depan kamera. Tetapi publik akan mengingat siapa yang tetap memilih menolong ketika orang lain sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Dampek tidak membutuhkan pertengkaran yang lebih panjang. Dampek membutuhkan kemanusiaan yang lebih kuat. Ini point’ penting dari tulisan saya. Tuhan Memberkati.
Penulis:
𝑃𝑙𝑎𝑠𝑖𝑑𝑢𝑠 𝐴𝑠𝑖𝑠 𝐷𝑒𝑜𝑟𝑛𝑎𝑦, 𝑃𝑢𝑡𝑟𝑎 𝐴𝑠𝑎𝑙 𝐷𝑎𝑚𝑝𝑒𝑘
𝑀𝑎ℎ𝑎𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑃𝑎𝑠𝑐𝑎 𝑆𝑎𝑟𝑗𝑎𝑛𝑎
𝑀𝑎𝑔𝑖𝑠𝑡𝑒𝑟 𝐻𝑢𝑘𝑢𝑚 𝑈𝑁𝐴𝑆 𝐽𝑎𝑘𝑎𝑟𝑡𝑎.

