HukumKab. Manggarai BaratLabuan bajoNttOpini

Gabriel Johang Tanggapi Surat Terbuka soal Tanah Boleng, Duga Ada Kepentingan Mafia Tanah di Baliknya

Manggarai Barat, Radartipikor.com — Beredarnya surat terbuka yang ditujukan kepada Kapolda NTT dan Bupati Manggarai Barat dari sejumlah orang yang mengaku sebagai masyarakat adat di Boleng memunculkan tanggapan dari Gabriel Johang, salah satu warga asli turunan Mbehal.

Gabriel menyebut isi surat tersebut justru menunjukkan kegelisahan dan kepanikan dari pihak penulisnya. Menurutnya, surat itu tidak memuat substansi yang kuat dan lebih menyerupai curahan perasaan tanpa dasar yang jelas.

“Beberapa hari terakhir beredar sebuah surat terbuka kepada Kapolda NTT dan Bupati Manggarai Barat dari segelintir orang yang mengaku sebagai masyarakat adat di Boleng. Saya, Gabriel Johang, asli turunan Mbehal, merasa lucu dengan surat yang berisi curhat, namun tanpa makna,” ujarnya.

Ia menilai, dari isi surat tersebut justru tampak bahwa penulisnya sedang dalam posisi panik dan berusaha mencari jalan keluar atas persoalan yang sedang dihadapi.

“Yang terbaca jelas dari surat itu adalah situasi panik yang dialami penulisnya. Kalau ibarat orang tenggelam, dia sedang sekarat hendak tenggelam dan berusaha meraih apa saja untuk bisa selamat,” katanya.

Gabriel juga mempertanyakan sosok Alfons Dambuk, yang disebut sebagai pembuat surat terbuka tersebut. Ia mempertanyakan apakah yang bersangkutan benar-benar memahami persoalan tanah adat di Boleng.

“Siapa Alfons Dambuk pembuat surat itu? Apakah Alfons Dambuk orang Boleng? Dia sepertinya harus berkaca dulu soal jati dirinya sebelum berbuat sesuatu, supaya tidak kemudian jadi blunder yang akhirnya memalukan dirinya sendiri,” ujarnya.

Menurut Gabriel, setelah mencermati isi surat terbuka itu, dirinya justru semakin yakin bahwa ada pihak yang bermain di balik layar dalam konflik tanah Boleng. Ia menduga Alfons Dambuk hanya dijadikan alat oleh kepentingan tertentu.

BACA JUGA  Pelaksanaan Pelatihan Pra Operasi Patuh Salawaku 2023 dengan tema "Patuh Dan Tertib Berlalu Lintas Cermin Moralitas Bangsa" Polres Pulau Buru

“Setelah saya dalami isi surat terbuka itu, dugaan saya semakin kuat bahwa ada mafia tanah yang bermain di belakang layar untuk kasus tanah Boleng ini. Saya menduga Alfons Dambuk hanya jadi boneka mainan mafia tanah,” tegasnya.

Ia menambahkan, surat tersebut menurutnya menunjukkan bahwa penulis tidak memahami secara utuh dinamika dan proses yang selama ini terjadi di lapangan. Gabriel juga menduga, karena bukan berasal dari Boleng, penulis surat tidak benar-benar memahami kondisi masyarakat adat setempat.

“Isi surat itu jelas mengonfirmasi bahwa Alfons Dambuk tidak memahami dinamika dan proses yang selama ini terjadi. Kalau memang demikian, mending diam saja daripada hasilnya mempermalukan diri sendiri,” katanya.

Terkait persoalan dengan Rareng, Gabriel mengatakan pihaknya tetap tenang. Ia mengklaim memiliki banyak bukti bahwa Lengkong Warang adalah milik masyarakat Mbehal. Menurutnya, hanya sedikit orang dari pihaknya yang mampu mempertahankan wilayah tersebut dari upaya klaim oleh pihak lain.

“Untuk persoalan dengan Rareng, kami santai saja. Terlalu banyak bukti bahwa Lengkong Warang adalah milik kami. Lalu bagaimana kami hanya 9 orang masyarakat Mbehal berhasil mengusir pulang orang-orang yang datang hendak mengklaim lahan kami?” ujarnya.

Gabriel juga menyebut masih ada warga Rareng yang memahami dan mengakui batas-batas ulayat dengan Mbehal. Ia mengatakan sebagian dari mereka bersedia menjadi saksi di pengadilan apabila diperlukan, bahwa Lengkong Warang merupakan milik ulayat Mbehal.

“Banyak orang Rareng yang asli keturunan tua golo di sana, bukan yang boneka setingan mafia tanah, masih mengakui batas-batas ulayat dengan Mbehal, dan bersedia memberi kesaksian di pengadilan kelak jika dibutuhkan,” kata Gabriel.

Ia menambahkan, menurutnya para tetua dari generasi sebelumnya juga telah menandatangani dokumen di hadapan terus gendang Pitu Boleng yang menyatakan bahwa Lengkong Warang adalah milik ulayat Mbehal.

BACA JUGA  Penyerahan Hasil Pemeriksaan kapal TB. Bina Marine 57/TK. Bina Marine 58 dari Lanal Kendari ke KSOP Kelas II Kendari

Terkait surat terbuka tersebut, Gabriel menduga tidak akan ada tanggapan lanjutan. Menurutnya, isi surat itu tidak memiliki bobot persoalan yang kuat dan justru penuh dengan kepalsuan.

“Terakhir saya yakin surat terbuka itu tidak akan mendapat tanggapan. Pertama karena tidak punya bobot soal, mengarang bebas, dan penuh kepalsuan. Level Kapolda tidak akan dapat dikelabui badut tua setingan mafia tanah,” pungkasnya.

Sumber: Gabriel Johang