IMG-20200803-WA0041_copy_700x400

Usai Menikmati Layanan Panti Pijat, Buronan Terpidana Kasus Pemalsuan Sertifikat Ditangkap Kejari Balikpapan

 

Balikpapan,radartipikor.com – Buronan terpidana kasus pemalsuan seritifikat bernama Kastiawan Wijaya ditangkap Kejaksaan Negeri (Kejari) Balikpapan usai menikmati layanan panti pijat di kawasan Jalan Darmo Permai Selatan, Kecamatan Dukuh Pakis, Kota Surabaya Kamis, 30/7/2020 pada pukul 18.20 WIB

Kastiawan Wijaya ditangkap langsung oleh Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Balikpapan Aditya Narwanto sebagai eksekutor berdasarkan surat perintah Kepala Kejaksaan Negeri Balikpapan. Dalam penangkapan tersebut dibantu oleh Jaksa dari Intel Kejaksaan Negeri Pasuruan dan Staf Intel Kejaksaan Negeri Sidoarjo, serta kepolisian dari Subdit III Jatanras Polda Jawa Timur.

Setelah di amankan, terpidana langsung digiring ke Rutan Kelas I Medaeng, Kota Surabaya.

Penangkapan tersebut berdasarkan putusan Mahkamah Agung RI Nomor 331/K/PID/2020 tanggal 20 Mei 2020 dan telah berkekuatan hukum tetap (inkracht) tanggal 11 Juni 2020. Terpidana melanggar Pasal 266 Ayat (1) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP

Kepala Kejaksaan Negeri Balikpapan Josia Koni melalui Kasi Pidana Umum Aditya Narwanto mengatakan, kasus yang menjerat Kastiawan Wijaya ini berawal saat mengajukan permohonan penggantian sertifikat ke Kantor Badan Pertanahan (BPN) Balikpapan dengan pengajuan sertifikat palsu. Sedangkan sertifikat yang asli berada ditangan pelapor yakni Liau Edwin Januar yang merupakan teman bisnisnya

“Sertifikat yang asli itu telah dijadikan sebagai jaminan bisnis oleh terpidana terhadap pelapor, namun terpidana ini mengajukan lagi penggantian sertifikat ke Kantor BPN. Setelah sertifikat itu keluar dari BPN (sertifikat pengganti), sempat ada putusan pembatalan dari PTUN terhadap sertifikat pengganti tersebut. Karena sertifikat yang keluar dari BPN salah satunya ada syarat putusan perdata yang mewajibkan Liau Edwin Januar yang tak lain adalah sebagai pelapor untuk membayar uang konsinyasi kepada Kastiawan,”ujar Aditya Narwanto saat ditemui media ini diruang kerjanya pada Senin, 3/8/2020

Dalam sertifikat pengganti itu, lanjut Aditya, tidak ada dalam putusan perdata masalah sertifikat. Namun oleh terpidana di ajukan juga sebagai syarat pembuatan sertifikat baru. Sementara pihak BPN dalam kesaksiannya di Pengadilan mengaku teledor karena baru mengetahui di persidangan isi dari putusan perdata tersebut

Kasus yang menjerat terpidana atas nama Kastiawan Wijaya ini sebelumnya memang tidak dilakukan penahanan, karena terpidana sebelum ada putusan Kasasi pernah melakukan banding dan bebas

“Setelah melalui sidang Kasasi terpidana dijatuhi hukuman 2 tahun penjara, otomatis kita lakukan eksekusi. Dalam eksekusi ini, karena terpidana tidak ditahan maka kita cari orangnya. Terpidana berhasil kita amankan di kawasan Jalan Darmo Selatan, Kota Surabaya,” jelasnya

“Sejak dari awal terpidana ini tidak pernah koperatif. Kalau di panggil tidak mau datang, setelah kita dapatkan informasi ternyata terpidana berada di Kota Surabaya. Jadi, kita kejar kesana, saat di amankan, terpidana baru selesai menikmati layanan di panti pijat. Putusan Kasasi tersebut sudah inkracht, upaya hukum apapun tidak ada yang bisa menghalangi jalannya eksekusi, Kasasi merupakan putusan terakhir,” tandasnya